Senin, 26 Januari 2009

PERTUMBUHAN EKONOMI DUNIA

Asia Masih Menopang Pertumbuhan Ekonomi Dunia

JAKARTA – Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), pekan lalu, mengeluarkan laporan bahwa perekonominan global tahun 2004 akan bertumbuh sebesar 4,6 persen atau perhitungannya lebih positif 0,6 persen dibandingkan proyeksi yang sama pada September tahun lalu. Sementara itu, untuk tahun 2005 mendatang pertumbuhan ekonomi akan sedikit bergeser menjadi 4,4 persen.

Positifnya, outlook perekonomian dunia ini masih diwarnai oleh masih berkelanjutannya sejumlah konflik di Timur Tengah seperti di Irak, juga Palestina. Konflik ini akan menyedot energi Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di Eropa.
Namun di Asia, Cina dan India mulai memimpin, pertumbuhan ekonomi yang cukup fantastis. Disusul dengan beberapa negara di Asia Tenggara seperti Vietnam dan Thailand, dan Kamboja yang mulai menggeliat. Selain itu ekonomi Jepang tampaknya mulai terbangun kembali.
Tidak jauh berbeda dengan prediksi sebelumnya, pertumbuhan ekonomi tertinggi masih terjadi di belahan bumi bagian timur yaitu kawasan Asia. Lebih spesifik lagi pertumbuhan perekonomian terbesar terjadi di Cina dan India. Cina pada tahun 2004 diperkirakan akan tetap tumbuh sebesar 8,5 persen dan tahun berikutnya 2005 bergeser sedikit menjadi 8,0 persen.
Masih di belahan Asia, India juga mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan yaitu 6,8 persen. Sedangkan tahun 2005, India diperkirakan tetap tumbuh sebesar 6 persen.
Pada kawasan lain, di Asia, perkiraan IMF juga menunjukkan adanya peningkatan. Seperti halnya perkiraan pertumbuhan negara-negara di Asia Tenggara, yang tergabung dalam ASEAN. Dari empat negara Asean yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mencapai 5,4 persen.
Perkiraan IMF yang lainnya adalah penanaman modal swasta di Asia, pada tahun ini diperkirakan akan mengalami pertumbuhan sebesar 116,8 persen. Sementara pada tahun 2005 pertumbuhan tetap terjadi namun lebih kecil yaitu 19,5 persen.
Dari pertumbuhan penanaman modal swasta tersebut investasi langsung dari sektor swasta (private direct investment), sedikitnya akan tumbuh 56 persen pada tahun 2004. Sementara portofolio investasi swasta akan mengalami penurunan, sebesar –18,1 persen, dan akan berlanjut pada tahun 2005 menjadi 19,5 persen. Perhitungan IMF, dalam tahun 2004 ini akan terjadi pertumbuhan investasi langsung dari sektor swasta sebesar 135,5 persen.

Negara Maju
Pada negara-negara maju, IMF memberikan harapan baru, akan adanya pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Negara-negara besar yang memberikan pengaruh besar kepada ekonomi dunia seperti Amerika, Jepang maupun Eropa menunjukkan pertubuhan positif.
Pada tahun 2004, IMF memperkirakan Amerika Serikat akan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 4,6 pesen. Sedangkan tahun 2005 diperkirakan akan turun kembali menjadi 3,9 persen. Padahal, pada tahun lalu ekonomi Amerika hanya tumbuh sebesar 3,1 persen.
Namun begitu, IMF memberikan gambaran yang kurang baik terhadap perkembangan utang Amerika Serikat. Sebab dari tahun ke tahun neraca Amerika Serikat menunjukkan terjadinya peningkatan rasio utang, terhadap Produk Domestik Brutio (PDB).
Rasio utang terhadap PDB Amerika pada tahun 2003 sebesar 49,7 persen. Tahun 2004 diperkirakan meningkat menjadi 50,5 persen dan tahun 2005 kembali meningkat menjadui 51,6 persen.
Sedangkan ekonomi Jepang tahun ini diperkirakan tumbuh sebesar 3,4 persen. Perkiraan ini lebih baik atau nail 0,7 persen dibandingkan perkiraan yang sama atas pertumbuhan ekonomi Jepang yang dikeluarkan pada bulan September tahun lalu.
Perekonomian Jepang pada tiga tahun terakhir memang mengalami stagnasi, bahkan pada tahun 2002 yang lalu Jepang mengalami pertumbuhan negatif 0,3 persen. Pada tahun 2003 ekonomi Jepang sedikit mengalami perbaikan, sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi positif sebesar 2,7 persen.
Hampir sama dengan Amerika Serikat, rasio utang pemerintah Jepang terhadap PDB juga terus mengalami peningkatan. Kalau tahun lalu rasio utang terhadap PDB sebesar 79,6 persen, tahun 2004 ini diperkirakan meningkat menjadi 85,9 persen dan tahun depan diperkirakan akan terus berlanjut menjadi 92,2 persen dari PDB.
Sementara pada kawasam Eropa, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi sebesar 1,7 persen pada tahun 2004, dan akan membaik menjadi 2,3 persen pada tahun 2005. pertumbuhan ekonomi terbesar terjadi di Spanyol, yaitu sebesar 2,8 persen pada tahun 2004, dan akan berkembang lagi menjadi 3,3 persen pada tahun 2005.
Pada bagian lain, IMF memperkirakan penurunan tingkat suku bunga kemungkinan masih akan terus berlangsung, untuk pengetatan moneter. Di kawasan Eropa, tingkat laju inflasi telah cukup berhenti mengejutkan pada tahun-tahun lalu, dan sepertinya tingkat inflasi telah terkontrol dengan sendirinya oleh turunnya tingkat permintaan atau konsumsi dalam negeri. Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut dengan cukup moderat, dan terapresiasi pada nilai tukar mata uang.
Dalam perkiraan inflasi IMF, berisi keseimbangan antara risiko dan alasan pertumbuhan untuk kebijakan yang aman, agar tidak mudah bias. Jika pembangunan dilakukan dengan kontinu, maka kebijakan untuk memotong tingkat suku bunga, akan terus berlanjut.
Di Jepang, yang selalu moderat dalam kebijakan monter, diperkirakan tingkat penurunan bunga masih berlanjut. Hal ini yang menjadi tantangan bagi Jepang adalah bagaimana menggabungkan antara stabilitas yang baik dengan perkiraan deflasi.
Saat ini, meningkatnya target Bank Sentral Jepang (Bank of Japan) untuk mendukung tingkat pemulihan ekonomi Jepang, dan menyesuaikan dengan kondisi moneter yang ketat, akan mendapatkan tempat sebagai langkah awal. Namun, akan lebih efektif, jika target inflasi jangka menengah lebih cepat dibandingkan dengan perkiraan inflasi.
Pada saat ini, IMF juga menilai sebagian besar kebijakan ekonomi negara besar dan berpengaruh di tingkat regional tidak sepenuhnya konsisten dengan kebijakan jangka menengah yang telah ditetapkan. Selain itu, pengelompokan kebijakan yang berseberangan antar negara maju dan regional tidak sepenuhnya konsiten dengan yang diminta untuk jangka menengah.
Hal inilah yang dibutuhkan untuk kredibiltas dan strategi kerjasama antarfasilitas terutama pada masalah kebijakan jangka menengah untuk menyeimbangkan kembali antara permintaan antar negara dan wilayah, serta pada saat yang sama mendukung pertumbuhan global.
Kunci mendasar dari strategi pertumbuhan perekonomian global, menurut IMF, seharusnya termasuk rencana yang kredibel untuk menyeimbangkan neraca anggaran pemerintah Amerika Serikat, dalam jangka menengah. Kemudian, di Eropa dilakukan fase reformasi struktural.
Selain itu perlu langkah reformasi sektor perbankan, dan korporasi di Jepang dan secara perlahan membangun fleksibilitas nilai tukar mata uang di Asia, di samping reformasi struktural dalam negeri untuk meningkatkan permintaan domestik. Langkah strategis kebijakan moneter haruslah dilakukan secara menyeluruh dan konsiten
Dengan tingkat pemulihan ekonomi yang sudah berjalan, sejumlah kritikan diperlukan di beberapa negara, untuk membuat laporan, antara menjaga kestabilan dalam jangka menengah, dan posisi fiskal pemerintahnya.
Laporan IMF juga menyebutkan dalam kondisi sekarang ini, yang menjadi isu sentral tidak hanya konsolidasi fiskal, meskipun di beberapa negara hal ini masih dibutuhkan. Bahkan di negara industri maju, kredibilitas dan kualitas yang tinggi, meskipun untuk melakukan reformasi sistem pensiun dan kesehatan, lebih penting dan dibutuhkan untuk neraca sebagai laporan perlakuan adil. Hal ini berkaitan dengan usaha pengurangan tingkat kemiskinan di dunia, khusunya di negara-negara berkembang.

Perdagangan
Pada bagian lain IMF juga mencatat, sejak akhir Februari lalu nilai tukar dolar AS terus mengalami tekanan. Secara rata-rata nilai tukar US$ terhadap mata uang lain dari negara yang tergabung dala G-7 US$ telah tertekan sebesar 3,25 persen. Bahkan sejak Februari 2002 sampai 19 September 2003 secara akumulatif US$ telah tertekan sebesar 16,5 persen.
Namun begitu melemahnya mata uang US$ ini tampaknya sedikit menggerakan volume perdagangan dunia. Setidaknya impor oleh negara maju mengalami peningkatan dari 2,3 persen pada tahun 2002, menjadi 3,5 pada tahun 2003. Diperkirakan laju peningkatan impor oleh negara maju ini akan terus berlanjut pada tahun 2004 sebesar 5,7 persen.
Sementara tingkat ekspor dari negara berkembang, juga mengalami peningkatan dari sebesar 6,5 persen pada tahun 2002, naik menjadi 8,7 pada tahun 2003. Sedangkan tahun 2004 ini diperkirakan akan mengalami sedikit penurunan menjadi 8,1 persen, dan akan kembali menguat pada tahun depan menjadi 8,7 persen.
IMF juga menyoroti terus melonjaknya harga minyak mentah di pasaran dunia dalam beberapa waktu terakhir. Menurut catatan IMF, harga minyak mengalami pergerakan naik sejak September 2003, dari harga US$ 26 per barel. Pada pertengahan April yang lalu, harga minyak mentah mencapai US$ 34 per barel. Sepanjang tahun 2004 IMF memperkirakan harga minyak bumi secara rata-rata sebesar US$ 32,5 per barel, atau menguat 8 persen dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya.
(SH/syamsul ashar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar